zmedia

ONANI & MASTURBASI AKHIR TAHUN 2025

Catatan Sunyi tentang Potensi yang Sering Tumpah di Tempat Salah

Akhir tahun selalu datang dengan suara yang sama: sunyi.
Sunyi setelah notifikasi mereda, sunyi setelah target tak seluruhnya tercapai, sunyi setelah layar ponsel dimatikan dan kita kembali berhadapan dengan diri sendiri. Di titik inilah manusia modern sering terjebak pada satu kebiasaan lama yang diberi nama baru: melampiaskan energi tanpa arah.

Judul ini mungkin terdengar kasar bagi sebagian telinga. Namun begitulah zaman bekerja—jujur, telanjang, tanpa basa-basi. Onani dan masturbasi di sini bukan sekadar perkara biologis, melainkan simbol. Simbol tentang potensi besar yang dihabiskan sendirian, cepat, instan, tanpa karya, tanpa warisan.


Energi Besar, Tujuan Kecil

Setiap manusia dianugerahi dorongan. Dorongan untuk mencipta, menaklukkan, meninggalkan jejak. Namun di era digital 2025, dorongan itu sering dialihkan ke hal-hal yang tak melahirkan apa-apa. Scroll tanpa henti. Konsumsi tanpa produksi. Kepuasan cepat yang habis sebelum sempat menjadi makna.

Kita hidup di zaman ketika daya cipta disedot oleh layar, bukan disalurkan menjadi karya. Banyak orang lelah, bukan karena bekerja terlalu keras, tetapi karena energinya bocor ke terlalu banyak arah yang salah.

Dunia Digital: Ladang atau Pelarian

Ironisnya, dunia digital—yang seharusnya menjadi ladang—justru sering dijadikan pelarian. Padahal di sana ada peluang: tulisan yang bisa menghidupi keluarga, kode yang bisa menggerakkan sistem, konten yang bisa membangun peradaban kecil bernama komunitas.

Masalahnya bukan pada teknologinya. Masalahnya ada pada disiplin batin.
Apakah kita memakai internet untuk menanam, atau sekadar untuk melupakan waktu?

Menahan Diri Bukan Berarti Mematikan Diri

Seorang sastrawan paham: menahan bukan berarti menekan sampai mati. Menahan adalah mengalihkan. Api yang sama bisa membakar rumah, atau menempa besi. Energi yang sama bisa habis dalam sunyi, atau berubah menjadi tulisan, bisnis, sistem, dan pengaruh.

Menuju 2026, pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:

Apakah kita masih ingin menghabiskan tenaga besar untuk kepuasan kecil?

2026: Tahun Mengalirkan, Bukan Menghabiskan

Tahun baru bukan soal resolusi panjang. Ia soal satu keputusan pendek: berhenti menyia-nyiakan daya hidup.
Mengubah konsumsi menjadi produksi.
Mengubah pelampiasan menjadi penciptaan.
Mengubah kebiasaan sunyi menjadi karya yang berbicara.

Dunia digital tidak butuh lebih banyak penonton. Ia butuh pengelola energi—orang-orang yang tahu kapan berhenti, kapan fokus, dan kapan menanam dalam-dalam meski hasilnya belum terlihat.

Akhirnya, refleksi ini bukan tentang dosa atau moral semata. Ini tentang ekonomi jiwa. Tentang bagaimana kita menginvestasikan tenaga paling berharga yang kita punya: perhatian, waktu, dan hasrat.

Dan seperti semua karya sastra yang baik, ia tidak memerintah.
Ia hanya bertanya—lalu membiarkan pembacanya jujur pada dirinya sendiri.


Energi Adalah Amanah

Dalam Islam, tidak ada satu pun nikmat yang dibiarkan tanpa pertanyaan. Waktu, pikiran, kekuatan, bahkan dorongan batin—semuanya adalah amanah. Allah ﷻ berfirman:

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan.”
(QS. At-Takātsur: 8)

Tahun 2025 memperlihatkan bagaimana banyak manusia modern kelelahan bukan karena berjuang di jalan yang benar, melainkan karena energinya bocor ke hal-hal yang tidak menumbuhkan iman, ilmu, maupun manfaat. Layar demi layar menyedot perhatian, sementara potensi dibiarkan menguap.

Dunia Digital: Ujian atau Ladang Amal

Dunia digital sejatinya adalah ladang. Ia netral. Ia tidak berdosa dan tidak pula berpahala. Yang menentukan nilainya adalah niat dan arah. Dari satu gawai, seseorang bisa menyebar kebodohan—atau menyalakan cahaya.

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk konsumsi tanpa produksi?
Berapa banyak hasrat yang dilepas tanpa tujuan?
Berapa banyak ide yang mati sebelum sempat dilahirkan menjadi amal?

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Menjaga Diri Adalah Bentuk Ibadah

Islam tidak hanya memerintahkan shalat dan puasa, tetapi juga pengelolaan diri. Menahan diri bukan berarti mematikan fitrah, melainkan mengarahkan fitrah agar melahirkan kebaikan.

Energi yang sama bisa:

  • mengikat seseorang pada kecanduan,

  • atau mengantarkannya pada penciptaan karya.

Energi yang tidak diarahkan akan mencari jalan sendiri—dan sering kali jatuh ke pelampiasan yang sunyi, cepat, dan kosong.

Menuju 2026: Tahun Mengalirkan, Bukan Menghabiskan

Menyongsong 2026, mungkin kita tidak perlu resolusi panjang. Cukup satu niat yang jujur:

“Aku tidak ingin lagi menyia-nyiakan amanah hidup.”

Mengubah kebiasaan kecil:

  • dari sekadar menonton menjadi menulis,

  • dari hanya mengeluh menjadi membangun,

  • dari konsumsi tanpa henti menjadi karya yang bermanfaat.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)

Penutup: Ekonomi Jiwa

Tulisan ini bukan tentang dosa yang ditunjuk dengan jari, melainkan tentang ekonomi jiwa. Tentang bagaimana kita menginvestasikan perhatian, waktu, dan dorongan batin yang Allah titipkan.

Akhir tahun adalah saat terbaik untuk jujur—bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri. Apakah kita ingin terus menghabiskan tenaga untuk kepuasan sesaat, atau mulai mengalirkannya menjadi karya, manfaat, dan amal yang kelak menjadi saksi?

Semoga 2026 menjadi tahun di mana kita:

  • lebih sadar,

  • lebih terarah,

  • dan lebih bertanggung jawab atas hidup yang Allah percayakan.

Wallāhu a‘lam.

Posting Komentar untuk "ONANI & MASTURBASI AKHIR TAHUN 2025"