Di Distrik Nishi, Nagoya, ada sebuah apartemen lantai dua yang selama lebih dari seperempat abad dibiarkan sunyi. Tidak ada yang menghuninya, namun sewa bulanannya selalu dibayar lunas. Di dalamnya, mainan anak-anak berdebu dan perabotan rumah tangga masih berada di posisi yang sama seperti pada tahun 1999. Apartemen itu sengaja "dibekukan" oleh seorang suami yang menolak menyerah pada keadilan.
Ini adalah kisah tentang cinta, obsesi, dan sebuah kasus pembunuhan yang akhirnya terpecahkan di ujung tahun 2025.
I. Tamu Tak Diundang (13 November 1999)
Hari itu, Sabtu, 13 November 1999, dimulai seperti hari-hari biasa bagi keluarga Takaba. Namiko, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun yang dikenal ceria dan ramah, menghabiskan pagi harinya bersama putra semata wayangnya, Yusuke, yang baru berusia 2 tahun. Mereka pergi ke dokter kulit, mampir ke rumah orang tua Namiko, dan kembali ke apartemen mereka menjelang siang.
Suami Namiko, Satoru Takaba, sedang bekerja saat itu. Kehidupan mereka tampak sempurna dan bahagia.
Sekitar pukul 1 siang, Namiko sedang asyik berbincang di telepon dengan seorang teman wanitanya. Di tengah percakapan, bel pintu interkom berbunyi. Dengan nada santai, Namiko berkata kepada temannya di ujung telepon, "Maaf, ada tamu sebentar. Nanti aku telepon lagi, ya."
Telepon ditutup. Namun, Namiko tidak pernah menelepon kembali.
Tak lama setelah itu, tetangga di lantai bawah mendengar suara benturan keras bukk! diikuti suara langkah kaki terburu-buru menuruni tangga. Itu adalah suara pelarian seorang pembunuh.
Satoru yang merasa cemas karena telepon rumah tak diangkat, memutuskan pulang lebih awal. Pukul 4 sore, ia membuka pintu apartemen dan disambut oleh pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Namiko tergeletak di lorong masuk (genkan), bersimbah darah akibat luka tusuk di leher.
Namun, yang lebih menyayat hati adalah keberadaan Yusuke. Bocah 2 tahun itu ditemukan berdiri di dekat jasad ibunya. Ia menjadi saksi bisu peristiwa mengerikan itu, sendirian di dalam apartemen bersama jenazah ibunya selama berjam-jam, namun ajaibnya ia tidak terluka sedikit pun.
II. Jejak yang Membingungkan
Polisi Prefektur Aichi segera menggelar penyelidikan besar-besaran. TKP dipenuhi petunjuk, namun semuanya seolah tak saling berhubungan. Pelaku meninggalkan jejak darah golongan B berbeda dengan golongan darah Namiko maupun Satoru. Ini menandakan tangan pelaku terluka saat serangan terjadi karena perlawanan Namiko. Ada pula jejak sepatu kets wanita ukuran 24 cm yang mengarah keluar pintu.
Namun, petunjuk paling aneh ada di dapur. Di meja, ditemukan sisa minuman susu fermentasi (sejenis Calpis atau Yakult besar) yang telah diminum. Rupanya, Namiko sempat menyuguhkan minuman kepada tamunya itu sebuah tanda sopan santun khas Jepang. Pelaku meminumnya, mungkin sebelum atau sesudah membunuh.
Anehnya, tidak ada uang atau barang berharga yang hilang. Ini bukan perampokan. Ini personal. Tetapi Namiko adalah wanita yang disukai banyak orang dan tidak punya musuh. Penyelidikan menemui jalan buntu. Teknologi DNA tahun 1999 belum cukup canggih untuk memetakan profil pelaku secara detail dari sampel yang tercampur air liur pada minuman itu.
III. Sumpah Sang Suami
Bulan berganti tahun, tahun berganti dekade. Kasus ini mulai mendingin dan dilupakan publik, menjadi Cold Case. Namun, tidak bagi Satoru Takaba. Satoru dan Yusuke kecil pindah dari apartemen itu karena trauma, tetapi Satoru mengambil keputusan gila: Ia tidak menghentikan sewa apartemen tersebut.
Setiap bulan, selama 26 tahun, Satoru membayar uang sewa untuk rumah kosong itu. Ia takut jika apartemen itu disewakan ke orang lain atau direnovasi, jejak mikroskopis yang mungkin terlewat oleh polisi akan hilang selamanya. Ia ingin menjaga TKP itu tetap utuh, menunggu teknologi masa depan yang bisa mengungkap kebenaran.
Apartemen itu menjadi kapsul waktu. Satoru rutin datang hanya untuk membersihkan debu, berdoa, dan berbicara dalam hati kepada mendiang istrinya. Ia tampil di televisi, menyebarkan selebaran di stasiun kereta, dan mendesak kepolisian untuk tidak menutup kasus ini.
"Saya ingin pelakunya tahu, saya tidak akan pernah menyerah," ucap Satoru dalam berbagai wawancara.
IV. Titik Terang (Oktober 2025)
Kesabaran dan pengorbanan Satoru akhirnya terbayar di tahun 2025. Kemajuan pesat dalam teknologi forensik genetik memungkinkan polisi untuk memeriksa ulang sampel darah dan air liur yang ditemukan di TKP 26 tahun lalu.
Metode analisis DNA terbaru tidak hanya mencocokkan, tetapi mampu melacak garis silsilah (genealogical DNA testing). Data tersebut akhirnya menunjuk pada satu nama, seorang wanita yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian. Pada akhir Oktober 2025, polisi menangkap Kumiko Yasufuku, seorang wanita pengangguran berusia 69 tahun.
V. Pengakuan Sang Pengagum Rahasia
Publik Jepang tersentak saat identitas dan motif pelaku terungkap. Kumiko Yasufuku ternyata sama sekali tidak mengenal Namiko. Ia adalah orang asing bagi korban.
Namun, ia sangat mengenal Satoru. Yasufuku adalah teman sekelas Satoru saat SMA.
Dalam interogasi, terungkaplah motif yang telah terpendam selama puluhan tahun. Yasufuku memendam cinta sepihak dan obsesi mendalam kepada Satoru sejak masa sekolah.
Mengetahui Satoru telah menikah dan hidup bahagia dengan Namiko, rasa cemburu gelap menguasai dirinya.
Hari itu di tahun 1999, Yasufuku mendatangi apartemen dengan alasan bertamu. Namiko yang ramah membukakan pintu dan memberinya minum. Namun, pertemuan itu berubah menjadi tragedi ketika Yasufuku melampiaskan obsesinya dengan merenggut nyawa wanita yang dicintai Satoru.
Setelah disodorkan bukti DNA yang tak terbantahkan, wanita tua itu akhirnya mengakui perbuatannya.
VI. Akhir Sebuah Penantian
Satoru Takaba, kini seorang pria paruh baya dengan rambut memutih, berdiri di hadapan wartawan dengan perasaan campur aduk. Putranya, Yusuke, kini sudah berusia 28 tahun ia telah tumbuh menjadi pria dewasa yang matang, mendekati usia ibunya saat nyawanya direnggut.
Kebenaran telah terungkap. Bukan perampok, bukan musuh Namiko, melainkan hantu dari masa lalu Satoru sendiri yang merenggut kebahagiaan mereka.
Usaha Satoru menjaga apartemen itu selama 26 tahun tidak sia-sia. Dedikasinya menjaga kasus ini tetap hidup memastikan polisi tidak pernah berhenti mencari, hingga teknologi akhirnya mampu mengejar kejahatan tersebut.
"Namiko, aku sudah menemukannya," batin Satoru.
Apartemen di Nishi-ku itu kini bisa dilepaskan. Misinya telah selesai. Keadilan, meski terlambat seperempat abad, akhirnya ditegakkan.

Posting Komentar untuk "ALKISAH - SANG SUAMI SEWA APARTMEN 26 TAHUN DEMI MENGUNGKAP KEBENARAN"
Komentar tetap pakai ADAB!
Posting Komentar